Menyelesaikan Buku Pertama, Mata Ikut Kena Drama
Sejak kuliah, saya selalu bermimpi punya buku sendiri. Bukan sekadar tulisan yang tersimpan rapi di folder laptop, tapi buku yang bisa dipegang, dibaca orang lain, dan berdiri di rak toko buku. Mimpi itu bertahan bertahun-tahun, sering kali cuma jadi angan yang saya simpan diam-diam setiap kali membuka jurnal harian.
Baru dua tahun terakhir saya benar-benar serius menulis. Sedikit demi sedikit, sela-sela waktu setelah pekerjaan kantor saya pakai untuk mengetik. Banyak ide justru lahir dari catatan-catatan kecil di jurnal, potongan perasaan yang saya tulis tanpa rencana besar, lalu perlahan tersusun jadi kerangka bab. Dan akhirnya, setelah proses panjang itu, naskah saya hampir rampung. Rasanya seperti mimpi lama yang perlahan berubah wujud jadi sesuatu yang nyata.
Semakin Dekat ke Garis Akhir, Mata Mulai Memberikan Sinyal
Menjelang deadline dari penerbit, ritme hidup saya berubah total. Hari-hari saya penuh dengan menulis, revisi berkali-kali, proofreading, memeriksa typo satu per satu, menyesuaikan layout, sampai membaca ulang ratusan halaman naskah dari awal. Saya menatap layar laptop sampai larut malam, kadang tanpa sadar sudah berjam-jam duduk di posisi yang sama.
Di tengah rutinitas itu, mata saya mulai memberi sinyal. Awalnya cuma terasa sepet, seperti ada yang mengganjal. Lalu berlanjut jadi perih setiap kali saya mengedipkan mata terlalu lama menatap teks. Menjelang malam, rasa lelah di mata semakin terasa, seolah ikut lembur bersama saya. Saat itu saya masih menganggap itu wajar, hanya efek kurang tidur biasa yang akan hilang sendiri setelah naskah selesai.
Ternyata anggapan saya keliru. Semakin hari, ketidaknyamanan di mata itu mulai memengaruhi cara saya bekerja. Saya jadi sulit fokus membaca, sering harus mengulang paragraf yang sama karena tidak benar-benar menyerap isinya. Beberapa typo yang seharusnya mudah terlihat malah terlewat begitu saja. Kalimat sederhana yang biasanya cepat saya periksa, kini terasa berat untuk dibaca ulang. Proses revisi yang dulunya bisa selesai dalam satu duduk, jadi molor berkali-kali lipat.
Ironisnya, di momen paling dekat dengan penyelesaian buku yang sudah lama saya nantikan, justru mata saya yang jadi penghambat. Ada rasa frustrasi tersendiri ketika tubuh, khususnya mata, tidak bisa diajak kompromi di saat pikiran sedang penuh semangat menyelesaikan sesuatu yang berarti.
Saya Baru Sadar Mata Juga Bagian dari Proses Berkarya
Awalnya saya pikir ini cuma soal kurang tidur. Tapi setelah mencari informasi lebih jauh, saya baru mengerti bahwa terlalu lama menatap layar bisa membuat mata sepet, perih, dan lelah, yang pada sebagian orang merupakan gejala mata kering. Saat menulis dan membaca dalam waktu lama, kita juga cenderung lebih jarang berkedip, sehingga kenyamanan mata pun ikut berkurang tanpa disadari.
Kalau dipikir-pikir, banyak kebiasaan saya selama proses menulis buku ini yang jadi penyebabnya: screen time yang tinggi hampir sepanjang hari, revisi tanpa jeda karena mengejar deadline, fokus membaca dalam waktu lama, duduk di ruangan ber-AC, sering begadang, dan jarang berkedip karena terlalu larut dalam tulisan. Semua itu ternyata bukan hal sepele. Mata sepele, jangan disepelein kalimat itu terus terngiang di kepala saya setelah menyadari betapa lama saya mengabaikan sinyal yang sebenarnya sudah diberikan tubuh sejak awal.
Belajar Menjaga Mata Agar Tetap Nyaman Berkarya
Sejak saat itu, saya mulai mengubah kebiasaan. Saya tidak lagi memaksakan diri revisi semalaman penuh, dan mulai memberi jeda istirahat setiap beberapa waktu. Saya juga membiasakan aturan 20-20-20, setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke jarak sekitar 20 kaki selama 20 detik. Hal-hal kecil lain juga saya perhatikan: minum air putih yang cukup, mengatur pencahayaan ruangan agar tidak terlalu kontras dengan layar, tidur yang cukup meski deadline mendesak, dan lebih sadar untuk berkedip saat membaca lama.
Dari situ saya mulai mencari tahu lebih jauh tentang cara membantu meredakan ketidaknyamanan mata akibat aktivitas menatap layar yang panjang. Melalui informasi resmi, saya mengenal Insto dry eyes sebagai salah satu pilihan yang bisa membantu meredakan gejala mata kering sesuai petunjuk penggunaan. Mengetahui ada solusi yang bisa saya andalkan membuat saya merasa lebih tenang menjalani hari-hari revisi terakhir, tanpa harus terus-menerus khawatir dengan kondisi mata saya.
Mimpi Menjadi Buku, Pelajaran Menjaga Mata Ikut Saya Bawa
Buku pertama akhirnya selesai, dan menjadi salah satu pencapaian yang paling saya syukuri. Perjalanan menulisnya panjang, penuh revisi, dan diam-diam juga penuh perjuangan menjaga mata tetap nyaman di tengah jam kerja yang padat. Dari perjalanan panjang itu, saya belajar satu hal penting: mengejar mimpi tidak berarti harus mengabaikan diri sendiri.
Menjaga kenyamanan mata bukanlah penghambat produktivitas, melainkan bagian penting agar saya tetap bisa menulis, berkarya, dan mewujudkan mimpi-mimpi berikutnya. Kalau kamu juga sedang mengejar sesuatu yang berarti, baik itu buku, tugas, atau pekerjaan yang menuntut waktu lama di depan layar, jangan tunggu sampai mata benar-benar lelah baru mulai peduli. Kenali gejala mata kering sejak dini, dan cari tahu solusinya sebelum mengganggu proses berkarya yang sudah kamu perjuangkan sejauh ini.
#InstoDryEyes #BebasMataKering #MataSePeLeJanganSepelein
.jpg)


Comments
Post a Comment