Menyelesaikan Buku Pertama, Mata Ikut Kena Drama
Sejak kuliah, saya selalu bermimpi punya buku sendiri. Bukan sekadar tulisan yang tersimpan rapi di folder laptop, tapi buku yang bisa dipegang, dibaca orang lain, dan berdiri di rak toko buku. Mimpi itu bertahan bertahun-tahun, sering kali cuma jadi angan yang saya simpan diam-diam setiap kali membuka jurnal harian. Baru dua tahun terakhir saya benar-benar serius menulis. Sedikit demi sedikit, sela-sela waktu setelah pekerjaan kantor saya pakai untuk mengetik. Banyak ide justru lahir dari catatan-catatan kecil di jurnal, potongan perasaan yang saya tulis tanpa rencana besar, lalu perlahan tersusun jadi kerangka bab. Dan akhirnya, setelah proses panjang itu, naskah saya hampir rampung. Rasanya seperti mimpi lama yang perlahan berubah wujud jadi sesuatu yang nyata. Semakin Dekat ke Garis Akhir, Mata Mulai Memberikan Sinyal Menjelang deadline dari penerbit, ritme hidup saya berubah total. Hari-hari saya penuh dengan menulis, revisi berkali-kali, proofreading, memeriksa typo satu pe...



